Cantik, luwes, ayu atau lembut, biasanya itulah tipikal yang digambarkan benak kita untuk membayangkan seorang penata rias. Bahkan pria pun bisa tampil “anggun” jika kebetulan ia berprofesi sebagai penata rias.
Namun sebaliknya dengan Yeni, sebagai satu-satunya perempuan yang terlahir dari lima bersaudara, wajarlah jika penampilannya sedikit tomboy. Tapi tak lantas membuatnya kehilangan minat terhadap dunia wanita. Karena sering juga ia melihat dan mengamati ibu dan neneknya merias diri.
Ketika kemudian ia tumbuh dewasa, bermula dari peristiwa sang kakak yang kesulitan mendapatkan busana yang cocok untuk pernikahannya, terbersitlah keinginannya untuk terjun ke bisnis bridal /butik persewaan baju pengantin dan tata rias yang identik dengan keindahan dan kecantikan ini. Dengan harapan ia akan menyediakan semua busana dan keperluan pernikahan selengkap mungkin yang membuat semua pelanggan bisa mengandalkan bridalnya.
Peluang usaha pun bisa ia lihat terbuka lebar disini. Meski sempat ada keraguan juga karena ia masih gadis. Sedangkan mitos menyebutkan tidak baik jika penata rias pengantin belum menikah, karena akan sulit dapat jodoh. Yah, untuk meminimalisir kegelisahan itu, ia turut juga saran ibundanya untuk kursus tata rias tapi tidak menerima pelanggan dulu.
Maka Yeni pun serius menata langkahnya untuk mewujudkan impian memiliki bisnis bridal, butik dan menjadi penata rias profesional. Mulanya Yeni belajar di sekitar Bandung.Namun ia merasa kurang pas dengan ilmu yang didapatkan disana.
Berbekal keinginan yang kuat, tak segan ia untuk memutuskan meninggalkan kampung halamannya dan hijrah saja ke Jakarta. Jelas saja tujuannya Puspita Martha, karena sudah terkenal sebagai pusat kursus kecantikan terpercaya.
Yeni mengikuti semua kursus mulai dari kelas make-up pengantin tradisional, moderen, komersil hingga tata rias professional. Tidak disangka dari semua perlombaan yang ia ikuti, Yeni selalu menjadi juara.
Dari mulai tingkat antar siswa Puspita Martha sampai tingkat Asia Pasifik!Ketika di Shanghai, misalnya, dengan persiapan yang mendadak dan tidak menyangka akan dikirim kesana, Yeni pulang dengan gelar juara.
Alhasil dari gelar juara itu membuatnya kebanjiran job. Kebetulan sang suami yang juga bergelut di bidang yang sama (wedding organizer dan dekorasi) menciptakan kombinasi selaras diantara keduanya. Sejak tahun 2005 Yeni resmi menjadi penata rias professional. Ia gunakan nama Centrobello yang bermakna “pusat kecantikan” untuk labelnya, sedangkan suaminya menggunakan nama Dwi Matra untuk dekorasi dan wedding organizer-nya. Kini eksistensi label Centrobello sudah terkenal kemana-mana dan usaha mereka mulai merambah ke bisnis katering dan foto video dalam label yang sama. Konsep One Stop Wedding mereka terapkan sehingga pelanggan tidak usah pusing lagi mencari jasa katering dan foto video di tempat lain, karena semua bisa ia sediakan.
“Tapi tidak mesti satu paket, jika klien ingin menggunakan saya sebagai penata riasnya dan memilih dekorasi dari orang lain itu tidak masalah, “cerita wanita cantik ini.
Dalam berbisnis, meski ia bekerjasama dengan sang suami tidak membuatnya melupakan profesionalitas. Dalam sehari maksimal ia hanya mengambil 2 pekerjaan saja. Totalitas dalam pekerjaan akan memaksimalkan hasil, ungkapnya. Untuk make up saja kisaran harga yang dipasang Yeni bisa sekitar 5 jutaan, belum termasuk dengan baju pengantin dsb. Jika kebetulan satu paket dengan sang suami, dari mulai tata rias sampai pelaminan, dekorasi dsb, untuk 1 acara, omzet Yeni sekitar 200 juta!
Sebuah bisnis yang menjanjikan bukan?
Kunci Sukses Yeni Soewargana:
1. Kolaborasikan jenis usaha yang serupa menjadi satu paket yang utuh (one stop)
2. Pengendalian mutu dan tunjukkan totalitas untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan
bravo!
Sumber : Buku Beauty Preneurship terbitan Puspita Martha





